Demonstrasi = Perhimpunan Haram
Monday, November 12, 2007
Kelihatannya para petinggi Malaysia cukup jeli mengantisipasi geliat gelombang protes beberapa pihak terhadap proses demokrasi di dalam negeri. Mereka belajar banyak dari jatuhnya Suharto dengan Golkarnya yang super kuat di masa itu. Mereka tidak ingin UMNO mengalami hal yang sama.
Setelah kejadian di Terengganu beberapa waktu lalu, contoh yang paling nyata adalah reaksi pemerintah terhadap demonstrasi massa besar-besaran yang dinamakan Gelombang Kuning Sabtu lalu. Demonstrasi yang diadakan oleh koalisi Bersih (Coalition for Clean and Fair Election) dari 67 kelompok massa belum apa-apa sudah dicap sebagai menentang undang-undang. Kepala Polis pun dengan sigap menyatakan para peserta demo ini bisa ditahan. Media massa juga tak kalah senangnya mengamini para petinggi dengan menghadirkan berita yang minimal untuk mengkover aksi, itu pun terutama tentang dampaknya yang membuat macet terutama di tengah kota dan juga tentang persepsi negatif yang diakibatkan oleh aksi ini menurut salah satu petinggi... tak ada media yang mengulas lebih dalam mengenai tujuan yang ingin dicapai oleh aksi ini dengan cara mewancarai para pendukung atau penggeraknya misalnya. TV 1 setiap hari berulang kali mem-brainwash masyarakat dengan kampanye bahwa 'Demonstrasi selalu berakhir dengan keganasan' diiringi dengan video clips dari berbagai demonstrasi yang terjadi di dunia.
Hari Sabtu dan sebelumnya masih ada media yang menggunakan kata 'demonstration' untuk pemberitaan mereka, tapi praktis sejak Minggu tak ada istilah itu lagi. Penggantinya adalah 'perhimpunan haram' di media berbahasa Melayu dan 'illegal assemby/gathering/march' di media berbahasa Inggris. Penggunaan kata 'haram' atau 'illegal' secara sengaja telah mengarahkan publik untuk mempercayai apa yang dibilang oleh pemerintah. Ini hanya memperkuat citra mandul media lokal di sini yang sudah lama menjadi corong pemerintah tanpa tedeng aling-aling dan kehilangan kenetralan mereka. Kita cukup membaca beberapa tajuk utama di beberapa media untuk menyimpulkan bahwa mereka tidak beda dengan government newsletters saja. Hanya puja-puji di sana sini untuk liputan tentang program dan kinerja pemerintah maupun segala hal tentang individu para petinggi.
Lepas aksi yang berakhir dengan gas air mata itu pun media pun dengan suka cita mewartakan bahwa para demonstran (atau 'para peserta perhimpunan haram' menurut mereka...) bertindak agresif sehingga polisi terpaksa menggunakan semprotan air dan gas air mata. Mereka tidak mengecek ulang kebenaran yang disampaikan Al Jazeera bahwa polisi menggunakan kekerasan.
Makin lama makin kelihatan warna asli pemerintah yang berkuasa. Pak Lah yang tampaknya cukup tenang selama ini mulai bersikap keras dengan statement nya bahwa 'Saya tidak ingin dicabar (ditantang)' dan bahwa perhimpunan haram kemarin ini mencoba menyeret Kerajaan (Yang Dipertuan Agung) ke dalam politik.
Yang kelihatan jelas dari perbedaan antara demonstrasi yang dilakukan di Malaysia dan di negara-negara lain yang dampaknya terasa terhadap pemerintah yang berkuasa adalah absennya para mahasiswa dari aksi politik di sini. Entah apakah para calon intelektual dan pemimpin ini terlalu sibuk dengan urusan kampus, tak ada nyali, tak peduli dengan kondisi sosial politik dalam negeri atau terbuai dengan kemudahan yang diberikan pemerintah dalam bentuk beasiswa dll.
Sampai para mahasiswa terbangun dari tidurnya dan media berani menyuarakan kebenaran barulah aksi-aksi politik seperti ini akan menemukan taringnya yang selama ini diberangus pemerintah.
Jangan Usik Keris dan Wayangku...!
Wednesday, November 7, 2007
Aku masih penasaran dengan cara mempatenkan budaya suatu negara, baik itu lagu daerah, makanan, tarian, alat musik, senjata, pakaian, dll.... Masak sih semua negara mesti repot-repot mendaftarkannya untuk melindungi diri dari dicolong tetangga maupun bukan tetangga? Caranya gimana sih dan biro paten mana yang paling ok untuk mendapatkan pengakuan global....?
Berjam-jam aku habiskan di medan maya untuk mendapatkan informasi tsb tapi masih juga nihil hasilnya... Tapi hikmahnya adalah aku pun tidak berhasil menemukan rujukan resmi mengenai klaim orang-orang selama ini bahwa beberapa hasil budaya kita udah dipatenkan negara-negara lain, misalnya tempe oleh Jepang, batik Parang Rusak oleh Malaysia, dll.... So, hanya rumorkah itu semuanya? Mudah-mudahan.....
Dan alhamdulillah ada kabar gembira dari hasil jerih payahku kali ini... Di tengah hangatnya isu pencurian budaya belakangan ini, aku lega karena at least 2 hasil budaya luhur bangsa Indonesia tak akan bisa diambil sakkarepe dhewe oleh siapa pun juga... Keduanya adalah keris dan wayang....
Aku baru tahu kalau sejak 1997 sampai 2005 Unesco telah memproklamasikan yang namanya Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sebanyak 90 budaya luhur dari seluruh dunia. Terbanyak berasal dari Asia Pacific sejumlah 30 warisan budaya, termasuk keris dan wayang tersebut.
Untuk definisi apa itu cultural heritage bisa dibaca di sini. Dan ini adalah list ke 90 warisan budaya luhur ini.
Many huge thumbs up buat semua pihak yang bersusah payah mengantar keduanya menerima pengakuan dunia ini. PEPADI dan ISI termasuk kontributor utama untuk riset wayang, sedangkan pakar keris Ir Haryono Haryoguritno memimpin riset pustaka dan lapangan untuk melengkapi data mengenai keris yang diajukan ke Unesco. Berkat jasa mereka kita tak perlu lagi kuatir tiba-tiba ada yang mengklaim wayang dan keris sebagai milik atau berasal dari negara lain.
Mudah-mudahan warisan budaya kita lainnya segera menyusul...
Para Pedagang Sate Indonesia, Bersatulah!
Tuesday, November 6, 2007
Para pedagang sate Madura, Padang, Blora, Tegal dan lain daerah di Indonesia.... bersatulah...! Setelah mencoba mencuri lagu Rasa Sayange dan Jali-Jali, kini Malaysia benar-benar mulai merambah ke sektor makanan seperti yang aku indikasikan bulan lalu , mencoba mengklaim sate sebagai makanan eksklusif dan asli punya mereka.
Singaporeans, for instance, have promoted teh tarik and chilli crabs as among their main food attractions, said Mohd Rosly Selamat, chief operating officer of Pempena Sdn Bhd which is wholly owned by Tourism Malaysia.
“Malaysians, for instance, should make satay known to the world before other countries claim it as theirs,” he said at the launch of the one-day Malaysia Truly Asia Cuisine Showcase, held in conjunction with the Malaysia International Gourmet Festival (MIGF) from tomorrow till Nov 30.
Semua orang juga tahu kalau banyak negara yang punya versi yang beda-beda tentang sate... dan nggak ada yang tega mengklaim sebagai pemilik sejati. Baca wiki ini untuk sejarah singkat sate... Begitu banyak macam sate Indonesia disebutin situ tapi kita nggak seekstrem encik tetangga kita ini (yang btw hanya punya Sate Kajang untuk mereka banggakan...) untuk mengklaim bulat-bulat bahwa sate asalnya dari Indonesia... Atau kita yang terlalu lemah ya selama ini?
Siapa Berani Hire Indian Maids?
Friday, October 19, 2007
Berita pagi ini cukup mengesankan dan pasti akan membuat para majikan Malaysia geleng-geleng kepala: "Costly to hire Indian maids". Bereaksi terhadap dibukanya 'keran impor' PRT dari India, Nepal, Laos dan Vietnam setelah turunnya jumlah PRT dari Indonesia, Indian High Commission (ekuivalen dengan konsuler) menetapkan gaji minimum untuk PRT dari India sebesar RM 1400... itu minimum lho, belum lagi ditambah persyaratan lainnya seperti deposit sejumlah RM 9000, asuransi sudden death RM 20.000, prepaid mobile phone dan nggak boleh pakai agen -- employer harus datang ke India dan hire langsung dari sana tanpa bantuan siapa pun kecuali Indian High Commission yang mengatur kontraknya...
Coba bandingkan dengan yang diterima PRT asal Indonesia --- RM 400 saja, itupun banyak yang terima kurang dari itu... Seringkali gaji ditahan majikan mereka sampai mereka selesai kontrak... Dalam banyak kasus gaji 6 bulan pertama hanya untuk membayar agen alias mereka digratisin selama setengah tahun... Belum lagi kerja yang mesti mereka lakukan long hours tanpa mengindahkan peraturan resmi dari pemerintah sini... tak ada cuti, sering tak diperbolehkan komunikasi dengan teman-teman mereka sekalipun yang bersebelahan. Tak terhitung lagi siksaan mental dan fisik yang mesti mereka tahan...
Mestinya para majikan ini 'mensyukuri' apa yang sudah mereka dapat... bayar gaji PRT Indonesia murah meriah dan non stop lagi kerjanya nggak pernah berani mengeluh atau melawan... But I doubt it kalau liat watak mereka...
Salut kepada pemerintah India yang pasang badan melindungi warganya yang rela bekerja kasar di luar negera... Kenapa pemerintah kita nggak bisa ya? Malah menindak agen-agen TKI yang nggak beres kerjanya pun juga nggak becus... Memberantas pemerasan TKI di bandara Cengkareng pun hanya berhasil pas ada sidak (yang bukan mendadak karena semua orang udah tahu....)... Bereaksi terhadap penyiksaan serta kekerasan terhadap TKI pun terkesan ogah-ogahan... Sampai kapan ya...???? &%6^#@*!^@#,,,.....
Rendang dan Serundeng Siapa Punya?
Thursday, October 18, 2007
Tak perlu menunggu kasus Rasa Sayange reda atau bahkan tuntas, kembali muncul kasus serupa, meski dalam skala yang lebih kabur. Dalam harian gratis The Sun edisi kemarin iklan Idul Fitri konglomerat Malaysia Sime Darby tampil dengan foto se-pyrex makanan sebagai latar belakang dengan 2 potong kalimat pendek di latar depan: 'Leftover rendang. Or tomorrow's serunding?' See below pic.
C'mon... it's only rendang and serundeng... they've been Malaysians' favorite food for generations. As some local experts here keeps on maintaining, Malaysia is consist not only of local Malays, but also people originated from Java (where serunding is from), Minangkabau (can't separate them from rendang...), Bugis, Batak, Sunda, etc...."Hey Indon.... can't you understand that we are 'serumpun' so that your folksongs are our folksongs, your traditional foods are ours, your angklung is definitely our beloved musical instrument, your batik looks like ours,.... and should I continue on till you become convinced???"
"Ok, Males... I've been tired of having to argue and defend against you my little, spoiled, noisy 'brother' since Sipadan Ligitan, Ambalat, batik, Rasa Sayange and few in between... I wished Sukarno had moved on crushing you during the Confrontation."
For something so simple as food representation for an ad, kenapa sih Ma-lazy-ia ini nggak pake makanan khas mereka seperti nasi lemak, nasi dagang, nasi kerabu, laksa ayam, dan masih banyak lagi yang spesial dan nggak kalah enaknya dengan punya kita...?
And talking about 'serumpun', aku sepakat dengan pendapat salah satu analis Indonesia (lupa namanya) yang pernah bilang bahwa pengertian 'serumpun' itu hanya menguntungkan Malaysia saja dan memang mereka gunakan dengan cerdasnya untuk kepentingan bela diri mereka... "Ayolah mas Indon... kita kan serumpun... masak sih aku nggak boleh ikutan punya Rasa Sayange?"
Nah buat Indonesia... apa coba untungnya? Iya bener mereka boleh ngaku bahwa sebagian kecil warga mereka serumpun dengan kita, tapi apakah kita serumpun dengan mereka? Think about it... berapa persen sih penduduk kita yang dari Malay? Miniscule kalo pun nggak bisa dibilang hampir nol...
Terus yang Jawa, Minang dll itu? Lho itu kan emang penduduk asli kita.... Sejak kapan orang Irlandia bilang kalau AS adalah serumpun dengan mereka meski lebih banyak orang Irish di AS daripada turunan kita di Malaysia?
Benar apa kata pak analis itu bahwa Malaysia hanya menggunakan istilah 'serumpun' itu untuk hal-hal yang menguntungkan mereka saja atau kalau mereka minta pengertian dari Indonesia. Masak iya sih saudara serumpun bisa-bisanya tak bosan-bosan tega menyiksa TKI, membayar mereka dibawah rate pasar (dan kadang pun masih ditahan berbulan-bulan), mendobrak pintu hanya untuk memeriksa legalitas penghuninya, menahan istri diplomat Indonesia, dan masih banyak lagi dosa lainnya??? Lebih baik nggak punya saudara kan....
Statesman or Businessman?
Saturday, October 13, 2007
Reading today's New Straits Times on the possibility of re-merger between Singapore and Malaysia, I am now wondering if Lee Kuan Yew is a statesman or a businessman. KUALA LUMPUR: Singapore would be happy to rejoin Malaysia if it surpassed the island’s success, its former prime minister and Minister Mentor Lee Kuan Yew said.
Lee: We can merge if S’pore lags behind
“They have all the resources. If they would just educate the Chinese and the Indians, use them and treat them as citizens, they can equal us and even do better than us, and we would be happy to rejoin them,” he said in an interview with the Asia Institute of the University of California, Los Angeles, published earlier this week.
Bernama reported that the Singapore founding father had made similar remarks in June 1996, raising a storm on both sides of the Causeway with the then prime minister Tun Dr Mahathir Mohamad saying he did not think the time had come for a merger yet.
Dr Mahathir also described the remarks as just a means “to jolt Singaporeans” to their senses.
Asked about Singapore’s “sense of endangerment” and why it worried about its survivability in the long run, Lee replied: “Where are we? Are we in the Caribbean? Are we next to America, like the Bahamas?
“Singapore is a superstructure built on what? On 700 square kilometres and a lot of smart ideas that have worked so far — but the whole thing could come undone very quickly.
“When (Malaysia) kicked us out (in 1965), the expectation was that we would fail and we would go back on their terms, not on the terms we agreed with them under the British.
“Our problems are not just between states, this is a problem between races and religions and civilisations.
“We are a standing indictment of all the things that they could be doing differently.”
Analysts in Singapore, however, do not see any possibility of a Malaysia-Singapore merger.
“The chances of a re-merger in 1996 and in 2007 are the same — zero,” said Dr Ooi Kee Beng, co-ordinator of the Malaysia study programme at the Institute of Southeast Asian Studies and author of The Reluctant Politician: Tun Dr Ismail and His Time.
“The very idea of a re-merger on Singapore’s terms is appalling to most Malays,” Ooi told the Today newspaper. — Bernama
Incompetent Indonesian?
Sunday, September 2, 2007
Main Entry: in·com·pe·tent ![]()
Pronunciation: (")in-'käm-p&-t&nt
Function: adjective
Etymology: Middle French incompétent, from in- + compétent competent
1 : not legally qualified
2 : inadequate to or unsuitable for a particular purpose
3 a : lacking the qualities needed for effective action b : unable to function properly <incompetent heart valves>
Di atas adalah definisi 'incompetent' menurut Merriam-Webster. Tersinggungkah anda kalau dibilang Indonesia selama ini sudah di-stereotype-kan sebagai bangsa yang incompetent dan -- lebih parah lagi -- ini taken for granted begitu aja, paling tidak oleh salah satu think tank Indonesia yang punya nama?
Isu ini muncul dalam Malaysia-Indonesia Colloquium yang diselenggarakan CSIS dengan Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia di Jakarta minggu lalu, pas kebetulan berita mengenai penganiayaan terhadap wasit karate Indonesia Donald Luther Colopita masih seru-serunya. Sayang nggak banyak yang bisa digali di internet mengenai misconception ini kecuali berita dari Jakarta Post, jadi kita nggak tahu persis dari mana stereotype ini muncul dan kok (sepertinya) diterima begitu aja oleh partisipan, utamanya dari Indonesia. Di dalam berita ini, stereotype untuk orang-orang Malaysia adalah 'arrogant Malaysian,' generalisasi yang sebenarnya juga terbuka untuk diperdebatkan.
Sejauh saya alami sepanjang saya tinggal di Kuala Lumpur hampir 3 tahun ini, saya nggak pernah mendengar dari orang-orang lokal bahwa orang-orang Indonesia di sini identik dengan orang-orang atau pekerja yang 'incompetent'. So, saya bener-bener curious dari mana colloquium itu bisa menampilkan stereotype asal-asalan ini.
Mungkin mereka nggak pernah mendengar atau membaca bahwa aside from thousands of blue collar workers or maids (yang jelas nggak bisa dibilang incompetent secara general akibat ulah beberapa gelintir orang saja yang memang nggak profesional sejak dari dikirim oleh agen di Indonesia), ada beratus-ratus pekerja kantoran/professionals yang berkarir sebagai expats maupun non-expats di banyak perusahaan di Malaysia, terutama di oil and gas companies, IT, airlines, dan bahkan di beberapa universitas sebagai pengajar.
Kualitas teman-teman ini sudah tidak diragukan lagi. Banyak di antaranya yang punya pengalaman bertahun-tahun di luar Malaysia dan Indonesia sebelum datang ke sini. Tidak sedikit yang memegang posisi kunci dan nggak easily replaceable, so tidak ragu-ragu para employers mereka memberikan fasilitas dan benefits yang bagus untuk retain mereka. Di kantor saya sendiri, boss saya (kebetulan orang Melayu) akan suka sekali kalau bisa menemukan orang Indonesia untuk mengisi posisi yang kosong berdasar riwayat prestasi orang-orang kita selama ini di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Wait... mungkin anda akan bilang perusahaan-perusahaan di sini suka orang Indonesia karena pintar dan mau dibayar murah... Maaf kalau akhirnya anda akan kecele seandainya tahu rate mereka.
Malaysia sangat dependent terhadap tenaga kerja kasar maupun professional dari Indonesia. Contoh buktinya, beberapa waktu lalu ada pembersihan TKI kasar yang tidak memiliki surat-surat ijin kerja resmi. Akibatnya banyak sekali yang terpaksa dipulangkan oleh Kedubes kita ke kampung halamannya di Indonesia. Kurangnya tenaga kerja kasar yang sudah berpengalaman ini membuat banyak proyek pembangunan di Malaysia tertunda. Bagaimana seandainya para professional yang ada di oil companies, IT, airlines dll yang selama ini reliable juga cabut dari Malaysia?
So dari mana asumsi atau teori tentang 'incompentence of Indonesians' ini bermula, beredar dan taken for granted oleh think tank sekaliber CSIS? Bukankah tugas para peneliti ini adalah untuk selalu check and recheck asumsi, hipotesis serta berita yang ada?
Indonesian? No more boss lah....
Saturday, August 11, 2007
Sudah sejak beberapa hari ini aku aktif cari mobil buat ganti mobil lamaku. Kemarin aku liat ada yang pas gambarannya di iklan dengan yang aku inginkan. Aku call lah si empunya. Kira-kira seingatku seperti inilah percakapanku dengan yang di seberang telepon.
"Good morning, I am calling regarding the car that you advertised today on the paper. Do you still have it?"
"Yes, boss. What do you want to know?"
"How many kilometers this car has run?"
"Wait, boss.... ok, it's 54,000 kms, boss.... Very good condition, boss."
"Are you individual or dealer?"
"Used car seller, boss."
"Where are you located?"
"Bandar Baru, boss..."
"Where is it?"
"Do you know Ampang, boss? Not far from there. Where do you live, boss? Are you Malay?"
"No, I am Indonesian."
"Oh, Indonesian... Ok you come here lah... It's not far from Ampang Point. Call me when you are near..."
"Ok I will... thanks."
"Thank you."
Notice nggak apa yang berubah cukup drastis dalam percakapan di atas? Biasanya aku nggak sesensitif ini.... entah kenapa kemarin aku jadi peka sekali...
Di sini gampang sekali untuk jadi boss. Belum apa-apa si Chinese penjual mobil ini sudah panggil aku boss. Tapi itu berhenti begitu aku dengan bangganya declare keIndonesianku... langsung dia berhenti panggil boss... Nadanya tetap sopan, hanya kata-kata 'boss' yang diobral tadi nggak kedengeran lagi...
Mungkin hanya aku yang terlalu sensi kemarin... tapi this kind of thing happens... Keliatannya masih aneh 'kali buat sebagian orang lokal sini untuk mengasosiasikan orang Indonesia dengan boss. Terlampau banyak pekerja kasar serta maid dari Indonesia (all due respects for them....) di sini membuat orang-orang lokal seperti penjual mobil terpakai (kalo di Indonesia artinya jadi 'mobil yang nggak sengaja dipakai...') tadi susah membayangkan orang Indonesia jadi boss. Mereka tak pernah berhubungan dengan orang-orang Indonesia boleh jadi boss di beberapa perusahaan seperti Petronas, Hess, dll...
It's a matter of mind set yang dibangun dari interaksi sehari-hari mereka... Dan tentu saja nggak semua orang seperti itu.... mungkin hanya segelintir saja, aku nggak pernah perhatiin selama ini.... Tak ada gunanya upset dengan kenyataan seperti ini. Tapi perlu untuk memberi kita alert bahwa di sebagian masyarakat lokal di sini kata-kata 'Indonesia' dan 'boss' itu nggak bisa get along very well di mata mereka... It's a matter of time kita akan liat apakah hal ini jadi lebih parah atau beralih normal...