Anugerah Planet Muzik = Feel-Good Award?
Monday, April 21, 2008
Anugerah Planet Muzik (APM) 2008 yang diselenggarakan di KL barusan kelar. Sesuai dugaan, kebanyakan pemenang adalah dari Malaysia. Indonesia hanya kebagian 4 awards untuk Gigi dan Kris Dayanti, masih lebih bagus daripada Singapura yang cuma nyabet 1 award buat lilo-lilo saja. Malaysia merajai dengan 9 awards. List lengkapnya ada di blognya Encik Amir ini.
Anugerah ini katanya inisiatifnya datang dari Singapura untuk menyatukan para musisi lagu-lagu berbahasa Malay-based. Meski tahun ini udah masuk tahun ke 8, coba deh tanya ke teman-teman di Indonesia apakah mereka pernah dengar atau care dengan anugerah popularitas MalaySingIndo ini nggak? Dijamin hanya capek nanya dan njelasinnya nantinya... Kalau nyari yang aware aja susah, gimana mau expect banyak yang mau voting untuk penyanyi atau lagu-lagu Indonesia yang masuk nominasi?
So, akhirnya ya jelas-jelas karya atau penyanyi Malaysia dan Singapura lah yang muncul sebagai pemenang mayoritas sepanjang 8 tahun ini berkat para fans mereka yang superzealous. Yakin deh deep in the bottom of their hearts mereka ini sebenarnya mensyukuri ketidakterkenalan anugerah ini di Indonesia. Coba kalau sampai anugerah ini punya nama di tanah air... jumlah penduduk Indonesia aja bukan tandingan Malaysia dan Singapura combined... jelas mereka akan vote for artis lokal spt Peterpan, Gigi, Kris D, Rossa, Dewa, Ungu, Samsons, Matta, Iwan Fals, Gita Gutawa, Nidji, dan masih banyak lagi.... Bukan hanya karena nasionalisme, tapi memang dari segi kualitas mereka memang sangat bagus... Paling banter ada beberapa dari kita yang akan 'berkhianat' voting buat Siti Nurhaliza atau.......... hmmm..... wait.... siapa lagi ya.... kok jarang ada penyanyi Malaysia atau Singapura yang ngetop di Indonesia?
Search.....? Penyanyi rock yang cengeng dan complainer itu? No way!
Mawi yang diagung-agungkan di sini? ......Siapa dia? Kalaupun dia nyanyi lagunya Melly pun takutnya malah bakalan bikin Melly bunuh diri... he he he...
Faizal Tahir? Who????
Estranged? Hanya itu aja bisanya?
Sementara begitu banyak penyanyi Indonesia yang menguasai pasar dan digemari para muda-mudi Malaysia dan juga Singapura. Radio dan TV Malaysia dikuasai musik Indonesia sampai Amy Search frustasi dan protes. Setiap tampilan penyanyi Malaysia di TV juga kebanyakan membawakan lagu Indonesia. Pergi kemana pun di mall-mall sampai pasar-pasar juga serasa berada di blok M atau Mangga Dua.
So, APM clearly doesn't tell the truth at all about the winners of their categories. Jangankan award untuk yang 'BEST artists', untuk dikategorikan sebagai popularity awards pun juga tak layak...
Untungnya para fans di Indonesia nggak begitu care kalau rekan mereka di Malaysia atau Singapura bangga artis mereka menyabet mayoritas awards dan mengalahkan para penyanyi Indonesia yang lebih mereka nikmati lagu-lagunya..... Sukurlah fans di Indonesia bisa menghargai patriotisme rekan mereka di Malaysia dan Singapura yang bisa membedakan antara apa yang mereka sukai dengan nasionalisme mereka.... what you listen is not necessarily what you will vote for... Alhamdulillah fans di Indonesia bisa berbesar hati untuk sekali-kali ngemong kolega mereka di Malaysia dan Singapura...
Kita semua sadar kok kalau feeling good itu perlu.... maka jadilah APM sebagai feel-good awards semata...
Sampai jumpa di APM 2009 tahun depan dengan hasil serupa....!
Sympathy for A Crime?
Friday, April 18, 2008
Suratkabar Malaysia selama ini lebih dikenal sebagai simpatisan partai yang berkuasa, Barisan Nasional. Itu sah-sah saja dan bias menjadi tak terhindarkan karenanya. Itu juga masih umum dan bisa diterima. Orang tinggal memilih tidak membeli dan membacanya bila tak suka.
Tapi sukar sekali menerima bias yang cenderung menuju simpati ke suatu kejahatan. Coba baca cuplikan berita dari New Strait Times Senin kemarin di bawah ini:
Ceritanya, ibu assemblywoman yang sial ini kerampokan 2 kali dalam 2 minggu. Bedanya yang pertama kali dia dan keluarganya sempat dikasari oleh para perampok, sementara yang kedua kalinya para perampok, meski juga berparang, lebih 'pengertian'..... Nah, karena lima perampok terakhir ini nggak kasar dan 'penuh pengertian' maka si ibu ini berkesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang lokal, bukannya gang Indonesia yang katanya suka menggerayangi rumah-rumah orang-orang kaya di daerah Kuching ini....
Si ibu yang notabene pejabat dan tentunya berpendidikan ini mengambil kesimpulan demikian bukan dari suara, logat, atau sosok para perampok, tapi keliatannya dari somewhere in her mindset yang sudah corrupted oleh stereotypes yang ada selama ini, yang kebanyakan juga driven by the media...
Dalam hal ini NST took for granted pendapat si ibu. Pembaca awam akan makin menelan mentah-mentah apa yang dipaparkan NST dan stereotypes ini akan makin kental....
So next time ada penjahat yang kasar pastilah itu orang Indonesia.... Sementara penjahat yang 'baik hati' tentulah orang lokal....
Sejak kapan sih ada kejahatan yang penuh pengertian kalau nggak di negara ini?
