Incompetent Indonesian?
Sunday, September 2, 2007
Main Entry: in·com·pe·tent ![]()
Pronunciation: (")in-'käm-p&-t&nt
Function: adjective
Etymology: Middle French incompétent, from in- + compétent competent
1 : not legally qualified
2 : inadequate to or unsuitable for a particular purpose
3 a : lacking the qualities needed for effective action b : unable to function properly <incompetent heart valves>
Di atas adalah definisi 'incompetent' menurut Merriam-Webster. Tersinggungkah anda kalau dibilang Indonesia selama ini sudah di-stereotype-kan sebagai bangsa yang incompetent dan -- lebih parah lagi -- ini taken for granted begitu aja, paling tidak oleh salah satu think tank Indonesia yang punya nama?
Isu ini muncul dalam Malaysia-Indonesia Colloquium yang diselenggarakan CSIS dengan Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia di Jakarta minggu lalu, pas kebetulan berita mengenai penganiayaan terhadap wasit karate Indonesia Donald Luther Colopita masih seru-serunya. Sayang nggak banyak yang bisa digali di internet mengenai misconception ini kecuali berita dari Jakarta Post, jadi kita nggak tahu persis dari mana stereotype ini muncul dan kok (sepertinya) diterima begitu aja oleh partisipan, utamanya dari Indonesia. Di dalam berita ini, stereotype untuk orang-orang Malaysia adalah 'arrogant Malaysian,' generalisasi yang sebenarnya juga terbuka untuk diperdebatkan.
Sejauh saya alami sepanjang saya tinggal di Kuala Lumpur hampir 3 tahun ini, saya nggak pernah mendengar dari orang-orang lokal bahwa orang-orang Indonesia di sini identik dengan orang-orang atau pekerja yang 'incompetent'. So, saya bener-bener curious dari mana colloquium itu bisa menampilkan stereotype asal-asalan ini.
Mungkin mereka nggak pernah mendengar atau membaca bahwa aside from thousands of blue collar workers or maids (yang jelas nggak bisa dibilang incompetent secara general akibat ulah beberapa gelintir orang saja yang memang nggak profesional sejak dari dikirim oleh agen di Indonesia), ada beratus-ratus pekerja kantoran/professionals yang berkarir sebagai expats maupun non-expats di banyak perusahaan di Malaysia, terutama di oil and gas companies, IT, airlines, dan bahkan di beberapa universitas sebagai pengajar.
Kualitas teman-teman ini sudah tidak diragukan lagi. Banyak di antaranya yang punya pengalaman bertahun-tahun di luar Malaysia dan Indonesia sebelum datang ke sini. Tidak sedikit yang memegang posisi kunci dan nggak easily replaceable, so tidak ragu-ragu para employers mereka memberikan fasilitas dan benefits yang bagus untuk retain mereka. Di kantor saya sendiri, boss saya (kebetulan orang Melayu) akan suka sekali kalau bisa menemukan orang Indonesia untuk mengisi posisi yang kosong berdasar riwayat prestasi orang-orang kita selama ini di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Wait... mungkin anda akan bilang perusahaan-perusahaan di sini suka orang Indonesia karena pintar dan mau dibayar murah... Maaf kalau akhirnya anda akan kecele seandainya tahu rate mereka.
Malaysia sangat dependent terhadap tenaga kerja kasar maupun professional dari Indonesia. Contoh buktinya, beberapa waktu lalu ada pembersihan TKI kasar yang tidak memiliki surat-surat ijin kerja resmi. Akibatnya banyak sekali yang terpaksa dipulangkan oleh Kedubes kita ke kampung halamannya di Indonesia. Kurangnya tenaga kerja kasar yang sudah berpengalaman ini membuat banyak proyek pembangunan di Malaysia tertunda. Bagaimana seandainya para professional yang ada di oil companies, IT, airlines dll yang selama ini reliable juga cabut dari Malaysia?
So dari mana asumsi atau teori tentang 'incompentence of Indonesians' ini bermula, beredar dan taken for granted oleh think tank sekaliber CSIS? Bukankah tugas para peneliti ini adalah untuk selalu check and recheck asumsi, hipotesis serta berita yang ada?