Sympathy for A Crime?

Friday, April 18, 2008

Suratkabar Malaysia selama ini lebih dikenal sebagai simpatisan partai yang berkuasa, Barisan Nasional. Itu sah-sah saja dan bias menjadi tak terhindarkan karenanya. Itu juga masih umum dan bisa diterima. Orang tinggal memilih tidak membeli dan membacanya bila tak suka.

Tapi sukar sekali menerima bias yang cenderung menuju simpati ke suatu kejahatan. Coba baca cuplikan berita dari New Strait Times Senin kemarin di bawah ini:


Ceritanya, ibu assemblywoman yang sial ini kerampokan 2 kali dalam 2 minggu. Bedanya yang pertama kali dia dan keluarganya sempat dikasari oleh para perampok, sementara yang kedua kalinya para perampok, meski juga berparang, lebih 'pengertian'..... Nah, karena lima perampok terakhir ini nggak kasar dan 'penuh pengertian' maka si ibu ini berkesimpulan bahwa mereka adalah orang-orang lokal, bukannya gang Indonesia yang katanya suka menggerayangi rumah-rumah orang-orang kaya di daerah Kuching ini....

Si ibu yang notabene pejabat dan tentunya berpendidikan ini mengambil kesimpulan demikian bukan dari suara, logat, atau sosok para perampok, tapi keliatannya dari somewhere in her mindset yang sudah corrupted oleh stereotypes yang ada selama ini, yang kebanyakan juga driven by the media...

Dalam hal ini NST took for granted pendapat si ibu. Pembaca awam akan makin menelan mentah-mentah apa yang dipaparkan NST dan stereotypes ini akan makin kental....

So next time ada penjahat yang kasar pastilah itu orang Indonesia.... Sementara penjahat yang 'baik hati' tentulah orang lokal....

Sejak kapan sih ada kejahatan yang penuh pengertian kalau nggak di negara ini?

Posted by sekarmirah at 5:39 PM  

1 comments:

So typical of Malaysian, always think the worst of Indonesian.
Don't blame us indonesian here who always think of malaysian as lazy people. So lazy that they always blame indonesia for everythings that's wrong there... Can't see what's wrong with their people themselves

Duhan said...
April 21, 2008 at 10:41 PM  

Post a Comment