Rendang dan Serundeng Siapa Punya?
Thursday, October 18, 2007
Tak perlu menunggu kasus Rasa Sayange reda atau bahkan tuntas, kembali muncul kasus serupa, meski dalam skala yang lebih kabur. Dalam harian gratis The Sun edisi kemarin iklan Idul Fitri konglomerat Malaysia Sime Darby tampil dengan foto se-pyrex makanan sebagai latar belakang dengan 2 potong kalimat pendek di latar depan: 'Leftover rendang. Or tomorrow's serunding?' See below pic.
C'mon... it's only rendang and serundeng... they've been Malaysians' favorite food for generations. As some local experts here keeps on maintaining, Malaysia is consist not only of local Malays, but also people originated from Java (where serunding is from), Minangkabau (can't separate them from rendang...), Bugis, Batak, Sunda, etc...."Hey Indon.... can't you understand that we are 'serumpun' so that your folksongs are our folksongs, your traditional foods are ours, your angklung is definitely our beloved musical instrument, your batik looks like ours,.... and should I continue on till you become convinced???"
"Ok, Males... I've been tired of having to argue and defend against you my little, spoiled, noisy 'brother' since Sipadan Ligitan, Ambalat, batik, Rasa Sayange and few in between... I wished Sukarno had moved on crushing you during the Confrontation."
For something so simple as food representation for an ad, kenapa sih Ma-lazy-ia ini nggak pake makanan khas mereka seperti nasi lemak, nasi dagang, nasi kerabu, laksa ayam, dan masih banyak lagi yang spesial dan nggak kalah enaknya dengan punya kita...?
And talking about 'serumpun', aku sepakat dengan pendapat salah satu analis Indonesia (lupa namanya) yang pernah bilang bahwa pengertian 'serumpun' itu hanya menguntungkan Malaysia saja dan memang mereka gunakan dengan cerdasnya untuk kepentingan bela diri mereka... "Ayolah mas Indon... kita kan serumpun... masak sih aku nggak boleh ikutan punya Rasa Sayange?"
Nah buat Indonesia... apa coba untungnya? Iya bener mereka boleh ngaku bahwa sebagian kecil warga mereka serumpun dengan kita, tapi apakah kita serumpun dengan mereka? Think about it... berapa persen sih penduduk kita yang dari Malay? Miniscule kalo pun nggak bisa dibilang hampir nol...
Terus yang Jawa, Minang dll itu? Lho itu kan emang penduduk asli kita.... Sejak kapan orang Irlandia bilang kalau AS adalah serumpun dengan mereka meski lebih banyak orang Irish di AS daripada turunan kita di Malaysia?
Benar apa kata pak analis itu bahwa Malaysia hanya menggunakan istilah 'serumpun' itu untuk hal-hal yang menguntungkan mereka saja atau kalau mereka minta pengertian dari Indonesia. Masak iya sih saudara serumpun bisa-bisanya tak bosan-bosan tega menyiksa TKI, membayar mereka dibawah rate pasar (dan kadang pun masih ditahan berbulan-bulan), mendobrak pintu hanya untuk memeriksa legalitas penghuninya, menahan istri diplomat Indonesia, dan masih banyak lagi dosa lainnya??? Lebih baik nggak punya saudara kan....
Dear mbak sekar, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Tentang "rebutan" kebudayaan antara Indonesia dan malaysia ini sudah terjadi sejak dulu sekali. Karena memang akar budaya kita yang mirip dan hampir sama. Semua juga karena kurangnya awareness dari Indonesia, khususnya pemerintah mengenai hasil asli daerah yang harus di klaim melalui lembaga paten internasional, ketimbang nantinya diambil oleh negara lain, seperti tempe oleh Jepang, jahe dan kunyit oleh korea, pencak silat oleh vietnam, dan sekarang lagu rasa sayange (dan mungkin rendang atau srundeng) oleh malaysia. Mengenai seluk beluk paten akan saya bahas di kolom saya yang sederhana. So, keep in touch ya.. Sukses selalu untuk anda!